Senin, 24 September 2018

Review UU Hak Cipta (UU No. 28 Tahun 2014)


Review UU Hak Cipta (UU No. 28 Tahun 2014)

    Hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

      Menurut UU No. 28. Tahun 2014 pasal 1, Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
               
     Pemegang Hak Cipta adalah Pencipta sebagai pemilik Hak Cipta, pihak yang menerima hak tersebut secara sah dari Pencipta, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak yang menerima hak tersebut secara sah. Hak Terkait adalah hak yang berkaitan dengan Hak Cipta yang merupakan hak eksklusif bagi pelaku pertunjukan, produser fonogram, atau lembaga Penyiaran. UU Hak Cipta No.28 Tahun 2014 berlaku terhadap:
  1. Semua Ciptaan dan produk Hak Terkait warga negara, penduduk, dan badan hukum Indonesia;
  2. Semua Ciptaan dan produk Hak Terkait bukan warga negara Indonesia, bukan penduduk Indonesia, dan bukan badan hukum Indonesia yang untuk pertama kali dilakukan Pengumuman di Indonesia;
  3. Semua Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dan pengguna Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait bukan warga negara Indonesia, bukan penduduk Indonesia, dan bukan badan hukum Indonesia.               
Pencipta atau Pemegang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 UU No. 28 Tahun 2014 memiliki hak ekonomi untuk melakukan:
  1.  Penerbitan Ciptaan;
  2. Penggandaan Ciptaan dalam segala bentuknya;
  3. Penerjemahan Ciptaan;
  4. Pengadaplasian, pengaransemenan, atau pentransformasian Ciptaan;
  5. Pendistribusian Ciptaan atau salinannya;Pertunjukan Ciptaan;
  6.  Pengumuman Ciptaan;
  7. Komunikasi Ciptaan; dan
  8. Penyewaan Ciptaan.
Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan, baik seluruh maupun sebagian karena:
  1. Pewarisan;
  2. Hibah;
  3. Wakaf;
  4. Wasiat;
  5. Perjanjian tertulis; atau
  6. Sebab lain yang dibenarkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

     Menurut saya dengan ada dan berlakunya UU No.28 Tahun 2014 tentang hal-hal yang berkaitan dengan hak cipta dapat menjadi jaminan kepada pemilik hak cipta agar hasil ciptaan mereka tidak disalahgunakan oleh orang dan/atau pihak-pihak tidak bertanggung jawab kepada hasil ciptaan mereka dengan cara mengklaim dan merubah suatu ciptaan. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi yang sedemikian pesat sehingga memerlukan peningkatan perlindungan, jaminan serta kepastian hukum bagi pencipta, pemegang hak cipta dan pemilik hak cipta tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar