Minggu, 01 Januari 2017

Pengaruh Kemajuan Teknologi Terhadap Pengelolaan Lahan Sawah, Pertumbuhan dan Kualitas Padi.


Pengantar
            Puji syukur dipanjatkan kepada Allah SWT atas berkah dan karunia-Nya saya selaku penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ilmiah yang berjudul “pengaruh kemajuan teknologi pertanian terhadap pengelolaan sawah, pertumbuhan dan kualitas padi” ini dengan baik, walaupun terdapat kendala dan banyak kekurangan dalam menyusun makalah ilmiah ini. Dalam penulisan makalah ilmiah ini masih terdapat kesalahan dan jauh dari kata sempurna. Saya harap, makalah ini dapat berguna bagi para pembaca sebagai penambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu kritik dan saran dari pembaca akan saya terima dengan senang hati.


Sub Pembahasan
            Sawah sangatlah penting bagi kehidupan manusia dari zaman dahulu hingga sekarang. Sawah merupakan media tanam berupa tanah basah yang digunakan untuk menanam tanaman padi dengan nama latin (Oryza Sativa L). Fungsi sawah antaralain sebagai pencegah erosi dan longsor, penyedia sumber air tanah dan sebagai lahan penyerap air hujan. Sawah juga dapat berfungsi sebagai pemberi keuntungan dan lahan pekerjaan tidak hanya bagi petani namun juga bagi orang lain dan industri pertanian guna memenuhi kebutuhan beras nasional sebagai makanan pokok masyarakat terutama masyarakat di kota-kota besar yang tidak memiliki lahan persawahan.
            
        Tanah sawah dapat dijadikan media tanam jika tanah tersebut memiliki unsur-unsur mineral tanah yang tepat untuk menanam padi. Unsur-unsur mineral tanah berguna sebagai sumber unsur hara yang berguna bagi pertumbuhan padi, seperti H2O, O2, Mg, Ca, K dan Na. Karakteristik tanah sawah berbeda dengan tanah-tanah lainnya, tanah sawah harus mempunyai komposisi dan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh padi, sebab tanaman padi tidak akan tumbuh pada tanah yang tidak memiliki karakteristik khusus seperi tanah kering dan tanah gambut.


1.    Pemupukan Sebagai Penunjang Kesuburan dan Produktivitas Padi

       Pemberian pupuk pada lahan sawah bisa sangat membantu pertumbuhan tanaman padi guna meningkatkan hasil produksi beras. Pemupukan bisa dilakukan dengan cara memberikan pupuk alami seperti pupuk kandang dan kompos. Pupuk alami juga bisa dihasilkan atau didapatkan dari biota air pada lahan sawah, yaitu benih atau anakan ikan konsumsi seperti ikan mas.
       
     Dibeberapa daerah di Indonesia petani seringkali menyebarkan benih ikan pada lahan sawahnya guna membantu meningkatkan ketersediaan unsur hara yang berasal dari kotoran dan dapat mengendalikan hama pada tanah dan air di lahan sawah. Kotoran yang berasal dari benih ikan bisa menjadi pupuk alami. Penyebaran benih ikan juga dapat memberi keuntungan bagi para petani dan pelaku budidaya ikan konsumsi air tawar. Pelaku budi daya bisa mengambil untung karena sudah tersedianya kolam peatau pertumbuhan alami yang bersifat alami dan dapat mengurangi pengeluaran untuk pakan ikan karena sumber makanan yang sangat berlimpah.
       
        Pemupukan juga dapat dilakukan dengan cara menambahkan pupuk hayati atau pupuk organik seperti pupuk kandang dan pupuk kapur, sebab bahan-bahan organik tersebut juga memiliki unsur-unsur yang bermanfaat bagi tanaman padi karena dapat membantu kesuburan tanah, menjaga ekosistem sawah, meningkatkan hasil panen dan kualitas padi dan sebagai pestisida alami yang tidak menyebabkan pencemaran lingkungan.


2.    Kebutuhan, Sumber dan Pengelolaan Air Lahan Sawah
            Lahan sawah adalah tipe penggunaan atau pemanfaatan lahan datar yang pengelolaannya memerlukan air. Tanaman pertanian tidak bisa hidup tanpa air, begitu juga dengan tanaman padi. Kebutuhan air  penting bagi padi dan merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan hasil panen. Sumber air pada sawah dapat berasal dari saluran irigasi, waduk buatan, danau dan sungai. Berdasarkan sumber air yang digunakan, sawah dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:

1.   Sawah Irigasi
     Sawah irigasi merupakan  sawah yang sumber airnya hanya berasal dari sebuah atau beberapa irigasi dan waduk yang dialirkan melalui saluran-saluran air dan parit.

2.   Sawah Tadah Hujan
     Merupakan sawah yang sumber airnya berasal dari curah hujan tanpa adanya bantuan atau tambahan air dari irigasi sehingga sawah jenis ini memiliki waktu penanaman padi hanya tergantung pada datangnya musim hujan, sedangkan pada saat memasuki musim kemarau hanya bisa melakukan pemanenan padi dan menanam tanaman selain padi.
    
3.   Sawah Lebak
     Adalah sawah yang terletak di daerah rawa-rawa yang hanya dengan memanfaatkan pasang surutnya air rawa secara alami. Dalam sistem sawah lebak tidak memakai sumber air yang berasal dari irigasi dan waduk karena daerah rawa yang berlumpur, becek dan air yang melimpah tidak perlu sumber air tambahan.

4.   Sawah Pasang Surut
     Sawah pasang surut adalah sawah yang pengairannya bergantung pada pasang surut air laut dan terletak di wilayah yang tidak jauh dari laut. Sawah ini dapat ditemukan di aliran sungai besar dan di hilir sungai yang berakhir di lautan.

             Irigasi merupakan sumber pengelolaan air bagi area persawahan guna mencukupi kebutuah air bagi padi, karena dapat dibangun didekat area persawahan dan dengan mudah dialirkan melalui saluran-saluran irigasi dan parit. Tujuan pengairan yang bersumber dari irigasi adalah untuk memberikan tambahan air selain dari air hujan dengan jumlah yang cukup dan dapat diatur. Pengairan yang berasal irigasi, waduk dan danau juga diperlukan saat musim kemarau berkepanjangan dimana curah hujan yang minim dan suhu udara yang panas dapat mempercepat penguapan air pada lahan sawah. Fungsi lainnya adalah mempermudah pengolahan tanah agar mudah untuk dibajak, dapat mengatur suhu tanah, meningkatkan dan menjaga terjadinya sirkulasi oksigen pada air, membersihkan kotoran yang ada didalam air dan memberantas hama penyakit dan gulma. Dengan demikian petani dapat meningkatkan produktifitas dan kualitas padi.
            
            Ketersediaan air pada setiap daerah tentu berbeda-beda tergantung dari ketinggian dataran, kondisi cuaca dan jarak sumber air dari lahan sawah. Pada daerah yang relatif panas dan kering serta curah hujan yang rendah sangat menyulitkan bagi para petani untuk menanam padi maka dari itu patani mencoba memutar otak untuk menanam dan membudidayakan tanaman palawija dan tanaman konsumsi lain yang memerlukan ketersediaan air yang rendah seperti jagung.
       Penggunaan teknologi irigasi juga memiliki kendala dalam pada umumnya dari sisi pembangunan yang memerlukan dana yang tidak sedikit dalam pembangunannya dan ketersediaan lahan. Sumber pemasukan dana biasanya berasal dari APBD dan berasal dari dana yang dikumpulkan petani dan masyarakat setempat secara sukarela. Kendala lainnya dapat berasal dari penggunaan air irigasi yang berlebihan dan tidak efisien dan kehilangan air melalui rembesan dari rongga-rongga tanah sepanjang saluran irigasi dan parit.


3.   Pencemaran Lahan Sawah dan Pengendaliannya
           Tanaman padi sangatlah rentan terserang hama dan penyakit yang dapat berasal dari lingkungan sekitarnya, maka dari itu perlu dilakukan pencegahan dengan menggunakan berbagai macam zat ataupun komponen-komponen seperti pestisida dan pupuk buatan manusia atau zat alami. Walaupun penggunaan pestisida dapat membantu petani memberantas hama padi, pestisida juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan pada lahan sawah sehingga dapat mengubah komponen dan unsur-unsur dalam tanah dan dapat menyebabkan tanaman padi menjadi tidak organik. Penyebab atau sumber pencemaran pada lahan pertanian dapat berasal dari kegiatan pertanian seperti kegiatan budidaya dan kegiatan nonpertanian seperti industri dan pertambangan.
1.   Kegiatan industri dan pertambangan
     Pabrik dan industri banyak dibangun dekat dengan lahan sawah, seperti industri tekstil yang bisa ditemukan di daerah jawa Barat dan Jawa Tengah. Kegiatan industri dan pertambangan juga menghasilkan limbah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) dalam jumlah besar tanpa melalui proses pembersihan air limbah yang sangat berbahaya kehidupan manusia dan lingkungan. Limbah cair buangan industri dialirkan ke saluran pembuangan, sungai dan drainase, sehingga dapat mencemari air yang digunakan pada lahan sawah.
     Pencucian mineral-mineral tambang yang menggunakan bahan kimia yang tidak bisa terurai oleh lingkungan juga menjadi sumber pencemaran. Limbah tersebut mengandung logam-logam berat seperti Pb, Dc, Cu, Cr, Co, Mo, Mn dan Ni yang berbahaya bagi air, kesuburan tanah dan mengganggu pertumbuhan padi. Dampak terbesar yang dirasakan petani adalah tanaman padi menjadi mati dan mengami gagal panen serta kerugian sampai ratusan juta rupiah.
2.   Kegiatan budidaya tanaman pangan
      Sama halnya dengan kegiatan industri dan petambangan, kegiatan budidaya juga dapat menyebabkan pencemaran  lingkungan. Budidaya tanaman pangan yang secara luas menggunakan bahan-bahan agrokimia seperti pupuk kimia dan pestisida buatan.
    
     Berbagai jenis pupuk anorganik dan organik mengandung unsur-unsur yang bermanfaat bagi tanaman padi namun juga mengandung berbagai macam logam berat. Logam berat tersebut didapatkan dari sampah rumah tangga, sisa-sisa makanan, tumbuhan kering dan batuan fosfat yang menjadi bahan dasar pembuatan pupuk. Sampah rumah tangga inilah yang terdiri atas sisa-sisa sayur, buah dan makanan yang bercampur dengan benda-benda yang memiliki komposisi logam seperti baterai bekas, kaleng, aluminium foil, seng, kabel tembaga dan kuningan yang dapat mencemari lingkungan. Penggunaan pestisida dan pupuk yang berlebihan dapat meninggalkan residu didalam tanah dan air, meracuni biota lahan sawah seperti benih ikan, menurunkan kadar gizi dalam tumbuhan sumberdaya dan memicu berbagai penyakit pada manusia yang mengkonsumsinya.

4.    Pengelolaan Tanah Lahan Sawah
       Tanah sawah sebagai media tanam padi juga perlu perhatian khusus oleh para petani, tanah sawah harus mengalami pengolahan sebelum ditanami padi. Kondisi tanah haruslah gembur, berlumpur dan tidak keras atau kering agar mempermudah penanaman dan pertumbuhan akar padi. Mengemburkan tanah dapat dilalukan dengan sebuah alat yang dinamakan alat bajak sawah, yaitu alat khusus dibuat untuk mempermudah pekerjaan petani dalam mengolah dan membajak sawah. Beberapa contoh alat bajak antara lain yaitu :
1. Bajak singkal
       Merupakan salah satu alat bajak tertua di Indonesia. Di daerah lain ada yang menyebutnya langa atau langai. Alat bajak sederhana ini digunakan untuk mengolah tanah dengan cara ditarik oleh sapi atau kerbau.
2. Bajak garu
      Bajak garu bisanya digunakan setelah menggunakan bajak singkal. Fungsinya lebih diperuntukkan untuk menghancurkan dan meratakan permukaan tanah.
3. Cangkul
       Cangkul adalah alat sederhana yang digunakan petani untuk mengeruk dan menggali tanah sawah. Namun karena ukurannya yang kecil, diperlukan waktu yang lama dan tenaga yang lebih besar untuk membajak lahan sawah yang luas. Sehingga petani lebih memilih menggunakan cangkul untuk pekerjaan yang lebih mudah dan memerlukan waktu singkat.
4. Traktor modern
          Seiring meningkatnya kebutuhan manusia akan hasil pertanian dan kemajuan teknologi, manusia terus mengembangkan alat bajak yang lebih canggih, mudah untuk dioperasikan dan lebih menghemat waktu. Traktor bermesin diesel adalah salah satu traktor modern yang sudah banyak dipakai petani untuk membajak sawah. Namun traktor modern memiliki berbagai kekurangan, yaitu harganya yang tidak murah sehingga perlu biaya besar untuk membeli sebuah traktor, memerlukan bahan bakar, perawatan berkala, biaya perawatan dan memerlukan suku cadang baru bila sudah rusak.

Kesimpulan
            Lahan sawah memiliki berbagai macam aspek yang harus dipenuhi sebelum melakukan penanam tanaman padi. Mulai dari awal pembajakan yang memerlukan alat bajak sederhana hingga yang berteknologi tinggi, pengelolaan sumber air yang berasal dari irigasi, waduk, danau dan sungai serta pemberian pupuk bagi tanaman.
            Pembagian jenis-jenis lahan sawah seperti lahan sawah isigasi, tadah hujan, lebak dan pasang surut yang dibedakan berdasarkan sumber air yang digunakan membuat penanaman padi tidak hanya berada pada lahan sawah yang sering kita lihat dan kita tahu. Faktor serta sumber pencemaran bagi lahan sawah yang berasal dari industri, pertambangan dan kegiatan budidaya yang tidak ramah lingkungan serta limbah yang dihasilkan tidak hanya mencemari lahan sawah namun juga seluruh lingkungan sekitar dan dapat membahayakan kehidupan manusia.




Daftar Pustaka
       Buku referensi :
·         Agus, Fahmudin, Abdurachman Adimihardja, Sarwono Hardjowigeno, Achmad Mudzakir Fagi, Wiki Hartatik. 2004. Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. Bogor: Pusat  Penelitian  dan  Pengembangan Tanah dan Agroklimat (Puslitbangtanak).
·         Novari Manan, Dra. Fadjrina. 1989. Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Banda Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

       Jurnal referensi :
·         H. Darwanto, Dwidjono. 2005. Ketahanan Pangan Berbasis Prosuksi dan Kesejahteraan Petani. Vol. 12 No.2 2005. Diambil dari: http://agrisci.ugm.ac.id/vol12_2/7.152-165.Ketahanan%20Pangan%20n%20Produksi-Dwijono.pdf
·         Supriyanti, Adik, Supriyanta, Kristimani. 2015. Karakteristik Dua Puluh Padi (Oriza Sativa L.) Lokal Di Daerah Istimewa Yogyakarta. Vol.2 No.3 2015. Diambil dari: https://jurnal.ugm.ac.id/jbp/article/view/10475/pdf
·         Sutaryo, Bambang, Aziz Purwantoro, Nasrullah. 2005. Seleksi Beberapa Kombinasi Persilangan Padi untuk Ketahanan Terhadap Keracunana Aluminium. Vol. 12 No.1 2005. Diambil dari: http://agrisci.ugm.ac.id/vol12_1/3.seleksi_bambang.pdf

       Yasmin S, Mohamad, M.D. Moentono. 2005. Seleksi Beberapa Varian Padi Untuk Kuat batang dan Ketahanan Rebah. Vol. 12 No.1 2005. Diambil dari: http://agrisci.ugm.ac.id/vol12_1/4.padi_yamin.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar