Puji syukur dipanjatkan kepada Allah
SWT atas berkah dan karunia-Nya saya selaku penulis dapat menyelesaikan tugas
makalah ilmiah yang berjudul “pengaruh kemajuan teknologi pertanian terhadap
pengelolaan sawah, pertumbuhan dan kualitas padi” ini dengan baik, walaupun
terdapat kendala dan banyak kekurangan dalam menyusun makalah ilmiah ini. Dalam
penulisan makalah ilmiah ini masih terdapat kesalahan dan jauh dari kata
sempurna. Saya harap, makalah ini dapat berguna bagi para pembaca sebagai
penambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu kritik dan saran dari
pembaca akan saya terima dengan senang hati.
Sub Pembahasan
Sawah sangatlah penting bagi
kehidupan manusia dari zaman dahulu hingga sekarang. Sawah merupakan media
tanam berupa tanah basah yang digunakan untuk menanam tanaman padi dengan nama
latin (Oryza Sativa L). Fungsi sawah antaralain sebagai pencegah erosi dan
longsor, penyedia sumber air tanah dan sebagai lahan penyerap air hujan. Sawah
juga dapat berfungsi sebagai pemberi keuntungan dan lahan pekerjaan tidak hanya
bagi petani namun juga bagi orang lain dan industri pertanian guna memenuhi
kebutuhan beras nasional sebagai makanan pokok masyarakat terutama masyarakat
di kota-kota besar yang tidak memiliki lahan persawahan.
Tanah
sawah dapat dijadikan media tanam jika tanah tersebut memiliki unsur-unsur
mineral tanah yang tepat untuk menanam padi. Unsur-unsur mineral tanah berguna
sebagai sumber unsur hara yang berguna bagi pertumbuhan padi, seperti H2O, O2,
Mg, Ca, K dan Na. Karakteristik tanah sawah berbeda dengan tanah-tanah lainnya,
tanah sawah harus mempunyai komposisi dan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh
padi, sebab tanaman padi tidak akan tumbuh pada tanah yang tidak memiliki
karakteristik khusus seperi tanah kering dan tanah gambut.
1.
Pemupukan
Sebagai Penunjang Kesuburan dan Produktivitas Padi
Pemberian pupuk pada lahan sawah bisa
sangat membantu pertumbuhan tanaman padi guna meningkatkan hasil produksi
beras. Pemupukan bisa dilakukan dengan cara memberikan pupuk alami seperti
pupuk kandang dan kompos. Pupuk alami juga bisa dihasilkan atau didapatkan dari
biota air pada lahan sawah, yaitu benih atau anakan ikan konsumsi seperti ikan
mas.
Dibeberapa daerah di Indonesia petani
seringkali menyebarkan benih ikan pada lahan sawahnya guna membantu
meningkatkan ketersediaan unsur hara yang berasal dari kotoran dan dapat
mengendalikan hama pada tanah dan air di lahan sawah. Kotoran yang berasal dari
benih ikan bisa menjadi pupuk alami. Penyebaran benih ikan juga dapat memberi
keuntungan bagi para petani dan pelaku budidaya ikan konsumsi air tawar. Pelaku
budi daya bisa mengambil untung karena sudah tersedianya kolam peatau pertumbuhan
alami yang bersifat alami dan dapat mengurangi pengeluaran untuk pakan ikan
karena sumber makanan yang sangat berlimpah.
Pemupukan juga dapat dilakukan dengan
cara menambahkan pupuk hayati atau pupuk organik seperti pupuk kandang dan
pupuk kapur, sebab bahan-bahan organik tersebut juga memiliki unsur-unsur yang
bermanfaat bagi tanaman padi karena dapat membantu kesuburan tanah, menjaga
ekosistem sawah, meningkatkan hasil panen dan kualitas padi dan sebagai
pestisida alami yang tidak menyebabkan pencemaran lingkungan.
2.
Kebutuhan,
Sumber dan Pengelolaan Air Lahan Sawah
Lahan
sawah adalah tipe penggunaan atau pemanfaatan lahan datar yang pengelolaannya
memerlukan air. Tanaman pertanian tidak bisa hidup tanpa air, begitu juga
dengan tanaman padi. Kebutuhan air penting bagi padi dan merupakan salah satu faktor
penunjang keberhasilan hasil panen. Sumber air pada sawah dapat berasal dari
saluran irigasi, waduk buatan, danau dan sungai. Berdasarkan sumber air yang
digunakan, sawah dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Sawah
Irigasi
Sawah irigasi merupakan
sawah yang sumber airnya hanya berasal dari sebuah atau beberapa irigasi
dan waduk yang dialirkan melalui saluran-saluran air dan parit.
2. Sawah
Tadah Hujan
Merupakan
sawah yang sumber airnya berasal dari curah hujan tanpa adanya bantuan atau
tambahan air dari irigasi sehingga sawah jenis ini memiliki waktu penanaman
padi hanya tergantung pada datangnya musim hujan, sedangkan pada saat memasuki
musim kemarau hanya bisa melakukan pemanenan padi dan menanam tanaman selain
padi.
3. Sawah
Lebak
Adalah sawah yang terletak di daerah rawa-rawa yang hanya dengan
memanfaatkan pasang surutnya air rawa secara alami. Dalam sistem sawah lebak tidak
memakai sumber air yang berasal dari irigasi dan waduk karena daerah rawa yang
berlumpur, becek dan air yang melimpah tidak perlu sumber air tambahan.
4. Sawah
Pasang Surut
Sawah
pasang surut adalah sawah yang pengairannya bergantung pada pasang surut air
laut dan terletak di wilayah yang tidak jauh dari laut. Sawah ini dapat
ditemukan di aliran sungai besar dan di hilir sungai yang berakhir di lautan.
Irigasi merupakan sumber pengelolaan air
bagi area persawahan guna mencukupi kebutuah air bagi padi, karena dapat
dibangun didekat area persawahan dan dengan mudah dialirkan melalui
saluran-saluran irigasi dan parit. Tujuan pengairan yang bersumber dari irigasi
adalah untuk memberikan tambahan air selain dari air hujan dengan jumlah yang
cukup dan dapat diatur. Pengairan yang berasal irigasi, waduk dan danau juga
diperlukan saat musim kemarau berkepanjangan dimana curah hujan yang minim dan
suhu udara yang panas dapat mempercepat penguapan air pada lahan sawah. Fungsi
lainnya adalah mempermudah pengolahan tanah agar mudah untuk dibajak, dapat
mengatur suhu tanah, meningkatkan dan menjaga terjadinya sirkulasi oksigen pada
air, membersihkan kotoran yang ada didalam air dan memberantas hama penyakit
dan gulma. Dengan demikian petani dapat meningkatkan produktifitas dan kualitas
padi.
Ketersediaan air pada setiap daerah tentu
berbeda-beda tergantung dari ketinggian dataran, kondisi cuaca dan jarak sumber
air dari lahan sawah. Pada daerah yang relatif panas dan kering serta curah
hujan yang rendah sangat menyulitkan bagi para petani untuk menanam padi maka dari
itu patani mencoba memutar otak untuk menanam dan membudidayakan tanaman
palawija dan tanaman konsumsi lain yang memerlukan ketersediaan air yang rendah
seperti jagung.
Penggunaan
teknologi irigasi juga memiliki kendala dalam pada umumnya dari sisi
pembangunan yang memerlukan dana yang tidak sedikit dalam pembangunannya dan ketersediaan
lahan. Sumber pemasukan dana biasanya berasal dari APBD dan berasal dari dana
yang dikumpulkan petani dan masyarakat setempat secara sukarela. Kendala
lainnya dapat berasal dari penggunaan air irigasi yang berlebihan dan tidak
efisien dan kehilangan air melalui rembesan dari rongga-rongga tanah sepanjang
saluran irigasi dan parit.
3. Pencemaran
Lahan Sawah dan Pengendaliannya
Tanaman padi sangatlah
rentan terserang hama dan penyakit yang dapat berasal dari lingkungan
sekitarnya, maka dari itu perlu dilakukan pencegahan dengan menggunakan
berbagai macam zat ataupun komponen-komponen seperti pestisida dan pupuk buatan
manusia atau zat alami. Walaupun penggunaan pestisida dapat membantu petani memberantas
hama padi, pestisida juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan pada lahan
sawah sehingga dapat mengubah komponen dan unsur-unsur dalam tanah dan dapat
menyebabkan tanaman padi menjadi tidak organik. Penyebab atau sumber pencemaran
pada lahan pertanian dapat berasal dari kegiatan pertanian seperti kegiatan
budidaya dan kegiatan nonpertanian seperti industri dan pertambangan.
1. Kegiatan
industri dan pertambangan
Pabrik dan
industri banyak dibangun dekat dengan lahan sawah, seperti industri tekstil
yang bisa ditemukan di daerah jawa Barat dan Jawa Tengah. Kegiatan industri dan
pertambangan juga menghasilkan limbah yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun (B3) dalam jumlah besar tanpa melalui proses pembersihan air limbah
yang sangat berbahaya kehidupan manusia dan lingkungan. Limbah cair buangan
industri dialirkan ke saluran pembuangan, sungai dan drainase, sehingga dapat mencemari
air yang digunakan pada lahan sawah.
Pencucian mineral-mineral
tambang yang menggunakan bahan kimia yang tidak bisa terurai oleh lingkungan
juga menjadi sumber pencemaran. Limbah tersebut mengandung logam-logam berat
seperti Pb, Dc, Cu, Cr, Co, Mo, Mn dan Ni yang berbahaya bagi air, kesuburan
tanah dan mengganggu pertumbuhan padi. Dampak terbesar yang dirasakan petani
adalah tanaman padi menjadi mati dan mengami gagal panen serta kerugian sampai
ratusan juta rupiah.
2. Kegiatan
budidaya tanaman pangan
Sama halnya dengan kegiatan industri dan petambangan, kegiatan
budidaya juga dapat menyebabkan pencemaran
lingkungan. Budidaya tanaman pangan yang secara luas menggunakan
bahan-bahan agrokimia seperti pupuk kimia dan pestisida buatan.
Berbagai jenis pupuk anorganik dan organik mengandung
unsur-unsur yang bermanfaat bagi tanaman padi namun juga mengandung berbagai
macam logam berat. Logam berat tersebut didapatkan dari sampah rumah tangga,
sisa-sisa makanan, tumbuhan kering dan batuan fosfat yang menjadi bahan dasar
pembuatan pupuk. Sampah rumah tangga inilah yang terdiri atas sisa-sisa sayur,
buah dan makanan yang bercampur dengan benda-benda yang memiliki komposisi
logam seperti baterai bekas, kaleng, aluminium foil, seng, kabel tembaga dan
kuningan yang dapat mencemari lingkungan. Penggunaan pestisida dan pupuk yang
berlebihan dapat meninggalkan residu didalam tanah dan air, meracuni biota
lahan sawah seperti benih ikan, menurunkan kadar gizi dalam tumbuhan sumberdaya
dan memicu berbagai penyakit pada manusia yang mengkonsumsinya.
4.
Pengelolaan
Tanah Lahan Sawah
Tanah
sawah sebagai media tanam padi juga perlu perhatian khusus oleh para petani,
tanah sawah harus mengalami pengolahan sebelum ditanami padi. Kondisi tanah
haruslah gembur, berlumpur dan tidak keras atau kering agar mempermudah
penanaman dan pertumbuhan akar padi. Mengemburkan tanah dapat dilalukan dengan
sebuah alat yang dinamakan alat bajak sawah, yaitu alat khusus dibuat untuk
mempermudah pekerjaan petani dalam mengolah dan membajak sawah. Beberapa contoh
alat bajak antara lain yaitu :
1. Bajak
singkal
Merupakan salah satu alat bajak tertua di
Indonesia. Di daerah lain ada yang menyebutnya langa atau langai. Alat bajak
sederhana ini digunakan untuk mengolah tanah dengan cara ditarik oleh sapi atau
kerbau.
2. Bajak
garu
Bajak garu bisanya digunakan setelah
menggunakan bajak singkal. Fungsinya lebih diperuntukkan untuk menghancurkan
dan meratakan permukaan tanah.
3. Cangkul
Cangkul
adalah alat sederhana yang digunakan petani untuk mengeruk dan menggali tanah
sawah. Namun karena ukurannya yang kecil, diperlukan waktu yang lama dan tenaga
yang lebih besar untuk membajak lahan sawah yang luas. Sehingga petani lebih
memilih menggunakan cangkul untuk pekerjaan yang lebih mudah dan memerlukan
waktu singkat.
4. Traktor
modern
Seiring
meningkatnya kebutuhan manusia akan hasil pertanian dan kemajuan teknologi,
manusia terus mengembangkan alat bajak yang lebih canggih, mudah untuk
dioperasikan dan lebih menghemat waktu. Traktor bermesin diesel adalah salah
satu traktor modern yang sudah banyak dipakai petani untuk membajak sawah.
Namun traktor modern memiliki berbagai kekurangan, yaitu harganya yang tidak
murah sehingga perlu biaya besar untuk membeli sebuah traktor, memerlukan bahan
bakar, perawatan berkala, biaya perawatan dan memerlukan suku cadang baru bila
sudah rusak.
Kesimpulan
Lahan sawah memiliki
berbagai macam aspek yang harus dipenuhi sebelum melakukan penanam tanaman padi.
Mulai dari awal pembajakan yang memerlukan alat bajak sederhana hingga yang
berteknologi tinggi, pengelolaan sumber air yang berasal dari irigasi, waduk,
danau dan sungai serta pemberian pupuk bagi tanaman.
Pembagian
jenis-jenis lahan sawah seperti lahan sawah isigasi, tadah hujan, lebak dan
pasang surut yang dibedakan berdasarkan sumber air yang digunakan membuat
penanaman padi tidak hanya berada pada lahan sawah yang sering kita lihat dan
kita tahu. Faktor serta sumber pencemaran bagi lahan sawah yang berasal dari
industri, pertambangan dan kegiatan budidaya yang tidak ramah lingkungan serta
limbah yang dihasilkan tidak hanya mencemari lahan sawah namun juga seluruh
lingkungan sekitar dan dapat membahayakan kehidupan manusia.
·
Agus,
Fahmudin, Abdurachman Adimihardja, Sarwono Hardjowigeno, Achmad Mudzakir Fagi,
Wiki Hartatik. 2004. Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. Bogor: Pusat Penelitian
dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat (Puslitbangtanak).
·
Novari
Manan, Dra. Fadjrina. 1989. Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya
Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Banda Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.