Nama : Setyo Ari Prunomo Aji
Kelas
: 4ID02
NPM : 36414950
Dosen : Fany
Yulia Rosyada
DAMPAK PANDEMI
COVID 19 PADA KEWIRAUSAHAAN
DI INDONESIA
ABSTRAKS
Setyo Ari
Prunomo Aji/ 36414950
DAMPAK COVID
19 TERHADAP KEWIRAUSAHAAN INDONESIA
Tugas Softskill Mata Kuliah Kewirausahaan, Jurusan Teknik Industri, Fakultas
Teknologi Industri, Universitas Gunadarma Depok 2020.
Kata Kunci: Virus Corona, Covid 19, Dampak, Kewirausahaan Indonesia.
Tahun 2020 baru berjalan tiga bulan namun
goncangan ekonomi telah terjadi begitu hebatnya. Perekonomi tiba-tiba jatuh dalam sekejap akibat
menyebarnya virus korona ke seluruh dunia. Seberapa buruk situasinya dan apa
dampaknya pada bisnis? Saya akan coba menggambarkannya di artikel ini. Semenjak WHO (World Healthy Organization) mengumumkan bahwa COVID-19 merupakan
pandemi dunia, perilaku konsumen di berbagai sektor bisnis berubah. Konsumen
menjadi sangat berhati-hati untuk melakukan konsumsi dan berusaha untuk menjaga
diri dan keluarganya untuk tetap bertahan di situasi ini, serta wilayah-wilayah kota dan negara
mulai melakukan penutupan. Tidak ada lalu lintas dan aktifitas yang normal
seperti beberapa bulna lalu. Tidak heran jika krisis kesehatan berdampak pada
krisis ekonomi secara bersamaan. Berdasarkan
kajian Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Covid-19 menimbulkan ancaman kehilangan
pendapatan rumah tangga, tidak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup
minimalnya. Terlebih bagi masyarakat miskin dan rentan serta sektor informal
serta penurunan daya bali masyarakat makin tinggi. Untuk korporasi
dan kewirausahaan Indonesia, pelemahan perekonomian akibat virus corona
membuat aktifitas sektor manufaktur, perdagangan, transportasi, dan akomodasi
seperti restoran dan perhotelan merupakan yang paling rentan. Sehingga, terjadi
gangguan aktifitas bisnis yang akan menurunkan kinerja, pemutusan hubungan
kerja, dan bahkan mengalami ancaman kebangkrutan.
PENDAHULUAN
Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal
dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke
manusia. Walaupun lebih banyak menyerang lansia,
virus ini sebenarnya bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa, termasuk ibu
hamil dan ibu menyusui. Coronavirus
adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak
kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu.
Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti
infeksi paru-paru (pneumonia). Selain
virus SARS-CoV-2 atau virus Corona, virus yang juga
termasuk dalam kelompok ini adalah virus penyebab Severe Acute
Respiratory Syndrome (SARS)
dan virus penyebab Middle-East Respiratory Syndrome (MERS). Meski disebabkan oleh virus
dari kelompok yang sama, yaitu coronavirus, COVID-19 memiliki beberapa perbedaan
dengan SARS dan MERS, antara lain dalam hal kecepatan
penyebaran dan keparahan gejala.
Pemerintah perlu melakukan langkah nyata perlindungan kepada
UKM yang terkena dampak Covid. 19. Karena itu, patut ditunggu realisasi dari
arahan Presiden Joko Widodo beberapa saat lalu. Dalam arahannya Presiden Joko Widodo mengintruksikan untuk
realokasi anggaran dan refocusing kebijakan guna memberi insentif ekonomi bagi
pelaku UKM dan informal, sehingga tetap dapat berproduksi dan beraktivitas juga
tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Ada beberapa faktor yang membuat UKM masih bisa bertahan
ditengah wabah Covid-19. Yang pertama, umumnya UKM yang menghasilkan barang
konsumsi dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pendapatan masyarakat yang menurun
drastis tidak berpengaruh banyak terhadap permintaan barang dan jasa yang
dihasilkan. UKM malah bisa bergerak dan menyerap tenaga kerja meski jumlahnya
terbatas dan dalam situasi Covid-19. Kedua,
pelaku usaha UKM umumnya memanfaatkan sumberdaya lokal, baik sumberdaya
manusia, modal, bahan baku, hingga peralatan. Artinya, sebagian besar kebutuhan
UKM tidak mengandalkan barang impor. Dan yang ketiga, umumnya bisnis UKM tidak
ditopang dana pinjaman dari bank, melainkan dari dana sendiri. Peran pelaku UKM ditengah wabah untuk
tetap menjaga pertumbuhan UKM menjadi sangat penting. Saat ini yang perlu
dilakukan pemerintah adalah menahan penyebaran Covid-19. Sebab, menahan laju
penyebaran Covid-19 akan berpengaruh terhadap perekonomian.
PEMBAHASAN
Pandemi
virus Corona bukan hanya sekedar bencana kesehatan, virus yang dikenal sebagai
Covid-19 ini telah menimbulkan kekacauan di sektor ekonomi. Tidak hanya
industri besar, pandemi virus Corona telah membuat pelaku UKM di Indonesia
mulai gelisah. Terlebih baru-baru ini, sebuah studi menyebut jika Covid-19
akan membuat Indonesia mengalami penurunan persentase pertumbuhan ekonomi
sebesar 0.1% di tahun 2020. Secara garis besar, berikut merupakan dampak nyata
yang disebabkan Covid-19 terhadap sektor UKM di Indonesia.
1.
Penurunan aktivitas jual-beli
Anjuran
social distancing demi menghindari penularan virus Corona yang lebih
luas, sedikit banyak turut andil menurunkan aktivitas jual-beli di tengah
masyarakat. Contohnya pelaku usaha makanan seperti usaha warteg di Jakarta. Virus Corona telah
membuat omset pengusaha warteg di Indonesia, khususnya Jabodetabek mengalami
penurunan hingga 50 persen. Namun beruntung, menurut penelitian yang dilakukan Center
for Economic and Social Studies (CESS) dan The Center for Micro and
Small Enterprise Dynamic (CEMSED), UKM di Indonesia tergolong unik karena
selalu punya kemampuan untuk berkembang dan bertahan selama krisis. Hal
ini terbukti dengan inisiatif para pengusaha makanan yang lebih memilih untuk
tetap beroperasi, namun mengubah cara berjualan dengan hanya melayani pembelian
kemasan (untuk dibawa pulang), tidak melayani pembelian makan di tempat.
2.
Bahan baku sulit didapat
Kebijakan
social distancing yang dipilih pemerintah Indonesia, telah membuat
aktivitas produksi terganggu. Beberapa perusahaan mengambil kebijakan Work From Home, beberapa lagi memutuskan
untuk merumahkan karyawannya, hingga PHK massal. Menurut data terbaru
Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi DKI Jakarta, sebanyak 30.137
pekerja dilaporkan harus kehilangan pekerjaan karena PHK massal, sedangkan
132.2799 pekerja lainnya kehilangan penghasilan karena dirumahkan tanpa upah.
Efek
domino dari badai PHK dan pekerja yang dirumahkan telah membuat penurunan
kapasitas produksi mengalami penurunan ekstrem. Mau tidak mau kondisi ini telah
menyebabkan bahan baku produksi industri rumah tangga mengalami kelangkaan,
atau mengalami kenaikan harga yang ekstrem. Misalnya sektor UKM pembuat
kue dan roti yang dipusingkan dengan melambungnya harga telur dan gula pasir.
Akibatnya, harga jual produk pun ikut dinaikkan. Pilihan ini tergolong
beresiko, mengingat saat ini daya beli masyarakat sedang lesu.
3.
Distribusi terhambat
Pemerintah
terus berupaya untuk memaksimalkan jalur distribusi ke seluruh Indonesia lewat
pembangunan infrastruktur besar-besaran di Indonesia. Proyek tersebut bahkan
sudah dimulai sejak Presiden Joko Widodo menjabat di periode pertama. Hasilnya
cukup signifikan, jalur distribusi jadi lebih cepat, kesenjangan harga bisa
dipangkas, dan laju perekonomian rakyat pun semakin kencang. Namun kini,
Covid-19 telah ‘menghancurkan’ semua itu. Menurut data Asosiasi Tol Indonesia
(ATI), lalu-lintas harian rata-rata (LHR) seluruh jalan tol di Indonesia
mengalami penurunan antara 40-60 persen sejak awal Maret 2020.
Penurunan
ekstrim terjadi di wilayah Jabodetabek. Jika pada bulan Februari jumlah
kendaraan yang melintas mencapai angka 3.19 juta kendaraan, di akhir Maret
kemarin jumlah tersebut hanya tersisa 1.06 juta saja. Kondisi ini diperkirakan
akan terus terjadi selama masa pandemi virus Corona. Terhentinya aktivitas
distribusi tentu sangat merugikan pelaku bisnis UKM. Mereka kini kebingungan
mencari cara mendistribusikan produk, terlebih bagi UKM yang sudah mulai
memperluas jangkauan pasar hingga luar daerah, atau bahkan lintas pulau.
4.
Penyedia jasa terdampak Covid-19
Tidak
hanya UKM yang bergerak di sektor produksi rumahan, mereka yang bergerak di
bidang jasa pun dilaporkan mengalami penurunan omset yang signifikan. Misalnya
tukang cukur yang terpaksa harus kehilangan penghasilan akibat kebijakan social distancing. Mereka yang bekerja sebagai buruh
harian lepas, seperti pegawai bangunan, makeup artis, pekerja wedding organizer, fotografer
pernikahan, dan lainnya dilaporkan kesulitan mendapatkan penghasilan
karena sejumlah proyek terpaksa ditunda akibat pandemi virus Corona. Beruntung, pemerintah saat ini cukup
berani mengambil kebijakan dengan tidak memberlakukan lockdown, sehingga
beberapa UKM di daerah masih punya kesempatan untuk mencari cara agar tetap
bisa ‘bertahan hidup’. Selain itu,
ada beberapa kebijakan lainnya yang dinilai cukup membantu para pelaku UKM,
misalnya memberikan relaksasi kredit, menggratiskan dan diskon listrik hingga
50 persen, serta program kemudahan suntikan modal.
KESIMPULAN
Dengan adanya virus Covid-19 yang menyerang seluruh
negara temasuk Indonesia, bidang ekonomi adalah salahsatu yang mendapatkan
dampak paling besar. Mulai dari penuruan mata uang, harga pasar global dan harga
kebutuhan sandang dan pangan yang terus naik dan jumlahnya menjadi langka. Dampak-dampak
ekonomi tersebut mempengaruhi bisnis wirausaha seperti usaha kecil dan menengah
(UKM). Beberapa dampak yang jelas terasa di dunia
kewirausahaan di Indonesia adalah penurunan aktivitas jual-beli, bahan baku
sulit didapat, distribusi terhambat, dan penyedia jasa.
Strategi dan cara mempertahankan bisnis Usaha Kecil Menengah (UKM) di tengah pandemi Covid-19 menurut hal-hal yang sudah saya pelajari yaitu lakukan
inovasi produk berdasarkan kebutuhan, tetap perhatikan standar kualitas produk,
rencanakan ulang pendapatan
dan pangkas anggaran biaya, dan manfaatkan media sosial sebagai channel utama pemasaran
