Jumat, 29 Mei 2020

Tugas V-Class Softskill Kewirausahaan


Nama   : Setyo Ari Prunomo Aji
Kelas   : 4ID02
NPM   : 36414950
Dosen  : Fany Yulia Rosyada

DAMPAK PANDEMI COVID 19 PADA KEWIRAUSAHAAN
DI INDONESIA


ABSTRAKS

Setyo Ari Prunomo Aji/ 36414950
DAMPAK COVID 19 TERHADAP KEWIRAUSAHAAN INDONESIA
Tugas Softskill Mata Kuliah Kewirausahaan, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Gunadarma Depok 2020.
Kata Kunci: Virus Corona, Covid 19, Dampak, Kewirausahaan Indonesia.

Tahun 2020 baru berjalan tiga bulan namun goncangan ekonomi telah terjadi begitu hebatnya. Perekonomi tiba-tiba jatuh dalam sekejap akibat menyebarnya virus korona ke seluruh dunia. Seberapa buruk situasinya dan apa dampaknya pada bisnis? Saya akan coba menggambarkannya di artikel ini. Semenjak WHO (World Healthy Organization) mengumumkan bahwa COVID-19 merupakan pandemi dunia, perilaku konsumen di berbagai sektor bisnis berubah. Konsumen menjadi sangat berhati-hati untuk melakukan konsumsi dan berusaha untuk menjaga diri dan keluarganya untuk tetap bertahan di situasi ini, serta wilayah-wilayah kota dan negara mulai melakukan penutupan. Tidak ada lalu lintas dan aktifitas yang normal seperti beberapa bulna lalu. Tidak heran jika krisis kesehatan berdampak pada krisis ekonomi secara bersamaan. Berdasarkan kajian Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Covid-19 menimbulkan ancaman kehilangan pendapatan rumah tangga, tidak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup minimalnya. Terlebih bagi masyarakat miskin dan rentan serta sektor informal serta penurunan daya bali masyarakat makin tinggi. Untuk korporasi dan kewirausahaan Indonesia, pelemahan perekonomian akibat virus corona membuat aktifitas sektor manufaktur, perdagangan, transportasi, dan akomodasi seperti restoran dan perhotelan merupakan yang paling rentan. Sehingga, terjadi gangguan aktifitas bisnis yang akan menurunkan kinerja, pemutusan hubungan kerja, dan bahkan mengalami ancaman kebangkrutan.


PENDAHULUAN

Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Walaupun lebih banyak menyerang lansia, virus ini sebenarnya bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui. Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia). Selain virus SARS-CoV-2 atau virus Corona, virus yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan virus penyebab Middle-East Respiratory Syndrome (MERS). Meski disebabkan oleh virus dari kelompok yang sama, yaitu coronavirus, COVID-19 memiliki beberapa perbedaan dengan SARS dan MERS, antara lain dalam hal kecepatan penyebaran dan keparahan gejala.
Pemerintah perlu melakukan langkah nyata perlindungan kepada UKM yang terkena dampak Covid. 19. Karena itu, patut ditunggu realisasi dari arahan Presiden Joko Widodo beberapa saat lalu. Dalam arahannya Presiden Joko Widodo mengintruksikan untuk realokasi anggaran dan refocusing kebijakan guna memberi insentif ekonomi bagi pelaku UKM dan informal, sehingga tetap dapat berproduksi dan beraktivitas juga tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Ada beberapa faktor yang membuat UKM masih bisa bertahan ditengah wabah Covid-19. Yang pertama, umumnya UKM yang menghasilkan barang konsumsi dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pendapatan masyarakat yang menurun drastis tidak berpengaruh banyak terhadap permintaan barang dan jasa yang dihasilkan. UKM malah bisa bergerak dan menyerap tenaga kerja meski jumlahnya terbatas dan dalam situasi Covid-19. Kedua, pelaku usaha UKM umumnya memanfaatkan sumberdaya lokal, baik sumberdaya manusia, modal, bahan baku, hingga peralatan. Artinya, sebagian besar kebutuhan UKM tidak mengandalkan barang impor. Dan yang ketiga, umumnya bisnis UKM tidak ditopang dana pinjaman dari bank, melainkan dari dana sendiri. Peran pelaku UKM ditengah wabah untuk tetap menjaga pertumbuhan UKM menjadi sangat penting. Saat ini yang perlu dilakukan pemerintah adalah menahan penyebaran Covid-19. Sebab, menahan laju penyebaran Covid-19 akan berpengaruh terhadap perekonomian.


PEMBAHASAN

Pandemi virus Corona bukan hanya sekedar bencana kesehatan, virus yang dikenal sebagai Covid-19 ini telah menimbulkan kekacauan di sektor ekonomi. Tidak hanya industri besar, pandemi virus Corona telah membuat pelaku UKM di Indonesia mulai gelisah. Terlebih baru-baru ini, sebuah studi menyebut jika Covid-19 akan membuat Indonesia mengalami penurunan persentase pertumbuhan ekonomi sebesar 0.1% di tahun 2020. Secara garis besar, berikut merupakan dampak nyata yang disebabkan Covid-19 terhadap sektor UKM di Indonesia.
1.      Penurunan aktivitas jual-beli
Anjuran social distancing demi menghindari penularan virus Corona yang lebih luas, sedikit banyak turut andil menurunkan aktivitas jual-beli di tengah masyarakat. Contohnya pelaku usaha makanan seperti usaha warteg di Jakarta. Virus Corona telah membuat omset pengusaha warteg di Indonesia, khususnya Jabodetabek mengalami penurunan hingga 50 persen. Namun beruntung, menurut penelitian yang dilakukan Center for Economic and Social Studies (CESS) dan The Center for Micro and Small Enterprise Dynamic (CEMSED), UKM di Indonesia tergolong unik karena selalu punya kemampuan untuk berkembang dan bertahan selama krisis. Hal ini terbukti dengan inisiatif para pengusaha makanan yang lebih memilih untuk tetap beroperasi, namun mengubah cara berjualan dengan hanya melayani pembelian kemasan (untuk dibawa pulang), tidak melayani pembelian makan di tempat.

2.      Bahan baku sulit didapat
Kebijakan social distancing yang dipilih pemerintah Indonesia, telah membuat aktivitas produksi terganggu. Beberapa perusahaan mengambil kebijakan Work From Home, beberapa lagi memutuskan untuk merumahkan karyawannya, hingga PHK massal. Menurut data terbaru Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi DKI Jakarta, sebanyak 30.137 pekerja dilaporkan harus kehilangan pekerjaan karena PHK massal, sedangkan 132.2799 pekerja lainnya kehilangan penghasilan karena dirumahkan tanpa upah.
Efek domino dari badai PHK dan pekerja yang dirumahkan telah membuat penurunan kapasitas produksi mengalami penurunan ekstrem. Mau tidak mau kondisi ini telah menyebabkan bahan baku produksi industri rumah tangga mengalami kelangkaan, atau mengalami kenaikan harga yang ekstrem. Misalnya sektor UKM pembuat kue dan roti yang dipusingkan dengan melambungnya harga telur dan gula pasir. Akibatnya, harga jual produk pun ikut dinaikkan. Pilihan ini tergolong beresiko, mengingat saat ini daya beli masyarakat sedang lesu.

3.      Distribusi terhambat
Pemerintah terus berupaya untuk memaksimalkan jalur distribusi ke seluruh Indonesia lewat pembangunan infrastruktur besar-besaran di Indonesia. Proyek tersebut bahkan sudah dimulai sejak Presiden Joko Widodo menjabat di periode pertama. Hasilnya cukup signifikan, jalur distribusi jadi lebih cepat, kesenjangan harga bisa dipangkas, dan laju perekonomian rakyat pun semakin kencang. Namun kini, Covid-19 telah ‘menghancurkan’ semua itu. Menurut data Asosiasi Tol Indonesia (ATI), lalu-lintas harian rata-rata (LHR) seluruh jalan tol di Indonesia mengalami penurunan antara 40-60 persen sejak awal Maret 2020.
 Penurunan ekstrim terjadi di wilayah Jabodetabek. Jika pada bulan Februari jumlah kendaraan yang melintas mencapai angka 3.19 juta kendaraan, di akhir Maret kemarin jumlah tersebut hanya tersisa 1.06 juta saja. Kondisi ini diperkirakan akan terus terjadi selama masa pandemi virus Corona. Terhentinya aktivitas distribusi tentu sangat merugikan pelaku bisnis UKM. Mereka kini kebingungan mencari cara mendistribusikan produk, terlebih bagi UKM yang sudah mulai memperluas jangkauan pasar hingga luar daerah, atau bahkan lintas pulau.

4.      Penyedia jasa terdampak Covid-19
Tidak hanya UKM yang bergerak di sektor produksi rumahan, mereka yang bergerak di bidang jasa pun dilaporkan mengalami penurunan omset yang signifikan. Misalnya tukang cukur yang terpaksa harus kehilangan penghasilan akibat kebijakan social distancing. Mereka yang bekerja sebagai buruh harian lepas, seperti pegawai bangunan, makeup artis, pekerja wedding organizer, fotografer pernikahan, dan lainnya dilaporkan kesulitan mendapatkan penghasilan  karena sejumlah proyek terpaksa ditunda akibat pandemi virus Corona. Beruntung, pemerintah saat ini cukup berani mengambil kebijakan dengan tidak memberlakukan lockdown, sehingga beberapa UKM di daerah masih punya kesempatan untuk mencari cara agar tetap bisa ‘bertahan hidup’. Selain itu, ada beberapa kebijakan lainnya yang dinilai cukup membantu para pelaku UKM, misalnya memberikan relaksasi kredit, menggratiskan dan diskon listrik hingga 50 persen, serta program kemudahan suntikan modal.


KESIMPULAN

Dengan adanya virus Covid-19 yang menyerang seluruh negara temasuk Indonesia, bidang ekonomi adalah salahsatu yang mendapatkan dampak paling besar. Mulai dari penuruan mata uang, harga pasar global dan harga kebutuhan sandang dan pangan yang terus naik dan jumlahnya menjadi langka. Dampak-dampak ekonomi tersebut mempengaruhi bisnis wirausaha seperti usaha kecil dan menengah (UKM). Beberapa dampak yang jelas terasa di dunia kewirausahaan di Indonesia adalah penurunan aktivitas jual-beli, bahan baku sulit didapat, distribusi terhambat, dan penyedia jasa.
Strategi dan cara mempertahankan bisnis Usaha Kecil Menengah (UKM) di tengah pandemi Covid-19 menurut hal-hal yang sudah saya pelajari yaitu lakukan inovasi produk berdasarkan kebutuhan, tetap perhatikan standar kualitas produk, rencanakan ulang pendapatan dan pangkas anggaran biaya, dan manfaatkan media sosial sebagai channel utama pemasaran

Minggu, 29 Maret 2020


PROPOSAL KEWIRAUSAHAAN



PERSIAPAN DAN PERENCANAAN WIRAUSAHA PRODUK MAKANAN MIE AYAM









Dibuat Oleh:

Nama                    : Setyo Ari Purnomo Aji

NPM                     : 36416950

Kelas                    : 4ID02

Mata Kuliah          : Kewirausahaan

Dosen                   : Fani Yulia Rosyada, SE. MMSI.





JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS GUNADARMA

DEPOK

2020

I.                   TEMA

INGIN BERWIRAUSAHA APA JIKA LULUS SARJANA NANTI?



II.        JUDUL PROPOSAL

PERSIAPAN DAN PERENCANAAN WIRAUSAHA PRODUK MAKANAN MIE AYAM



III.       LATAR BELAKANG

Wirausaha atau kewirausahaan adalah kemampuan untuk berdiri sendiri, berdaulat, merdeka lahir dan batin, sumber peningkatan kepribadian, suatu proses dimana orang mengejar peluang, merupakan sifat mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dituntut untuk mampu mengelola, menguasai, mengetahui dan berpengalaman untuk memacu kreatifitas.

Dalam lampiran Keputusan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusahan Kecil Nomor 961/KEP/M/XI/1995, dicantumkan bahwa:

1.      Wirausaha adalah orang yang mempunyai semangat, sikap, perilaku dan kemampuan kewirausahaan.

2.      Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang

dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari,

menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.

Perencanaan produksi merupakan perencanaan tentang produk apa dan berapa yang akan diproduksi oleh perusahaan yang bersangkutan dalam satu periode yang akan datang. Perencanaan produksi merupakan bagian dari perencanaan operasional di dalam perusahaan. Dalam penyusunan perencanaan produksi, hal yang perlu dipertimbangkan adalah adanya optimasi produksi sehingga akan dapat dicapai tingkat biaya yang paling rendah untuk pelaksanaan proses produksi tersebut.



IV.       TINJAUAN PUSTAKA

A.        Proses Produksi

Proses produksi adalah cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang dan jasa dengan menggunakan sumber-sumber tenaga kerja, mesin, bahan-bahan, dan dana yang ada. Proses produksi bisa diartikan sebagai proses pengubahan dari bahan baku atau komponen (input) menjadi produk lain yang mempunyai nilai lebih tinggi atau dalam proses terjadi penambahan nilai (Assauri, 2008).

Proses produksi dilihat dari wujudnya terbagi menjadi proses kimiawi, proses perubahan bentuk, proses assembling, proses transportasi dan proses penciptaan jasa-jasa administrasi. Proses produksi dari arus atau flow bahan mentah sampai menjadi produk akhir, terbagi menjadi dua yaitu proses produksi terus-menerus (continous processes) dan proses produksi terputus-putus (intermettent processes) (Ahyari, 2002).

1.      Proses produksi terus-menerus (continous processes) merupakan produksi yang menggunakan peralatan produksi yang disusun dan diatur dengan memperhatikan urutan-urutan kegiatan atau routing dalam menghasilkan produk atau jasa, serta arus bahan di dalam proses telah terstandarisasi.

2.      Proses produksi terputus-putus (intermettent processes) merupakan kegiatan produksi yang mempergunakan peralatan produksi yang disusun dan diatur sedemikian rupa, yang dimanfaatkan secara fleksibel (multipurpose) untuk menghasilkan produk atau jasa. Penentuan tipe produksi didasarkan pada faktor-faktor seperti berikut.

a.       Volume atau jumlah produk yang akan dihasilkan.

b.      Kualitas produk yang diisyaratkan.

c.       Peralatan yang tersedia untuk melaksanakan proses. Berdasarkan pertimbangan cermat mengenai faktor-faktor tersebut ditetapkan tipe proses produksi yang paling cocok untuk setiap produksi.

Berdasarkan pertimbangan cermat mengenai faktor-faktor tersebut ditetapkan tipe proses produksi yang paling cocok untuk setiap produksi.



V.        Analisis Perencanaan Produksi dan Persiapan Usaha

A.        Modal Awal

5.1 Tabel Peralatan Pendukung Usaha

Nama Peralatan
Harga (Rp)
Gerobak Mie
5.000.000
Mesin mie dan mixer
10.000.000
Meja produksi
2.000.000
Penggiling adonan
300.000
Baskom dan alat masak
500.000
Bahan-bahan pembuat mie ayam
200.000
Total
Rp. 18.000.000,-

Jumlah total modal awal yang diperluakan untuk menjalankan wirausaha produk makan mie ayam adalah sebesar Rp. 18.000.000,-. Harga dari peralaran dan bahan-bahan untuk kebutuhan produksi mie ayam sudah berdasarkan survei harga pasar.





B.        Biaya Produksi

5.2 Tabel Biaya Produksi Mie Ayam

Bahan
Berat (gr)
Harga Satuan Barang (Rp)
Harga Bahan Dalam Resep (Rp)
Persentase Biaya Bahan (%)
Tepung terigu
1.000
11.000 /gr
11.000
97 %
Garam dapur
10
7.000 /gr
70
1 %
Garam alkali
6
30.000 /kg
180
2 %
Air bersih
380
100 /kg
38
0 %
Total Adonan Mie
1.396 gr
Total Biaya Bahan
Rp. 11.288,-
100 %
Biaya Over Head (15%)
1.695
Sub Total
12.938
Labour Cost (20%)
2.597
Total Biaya Produksi
Rp. 15.580,-



5.3 Tabel Biaya Produksi dan Keuntungan Untuk 1 Porsi

Biaya
Harga (Rp)
Biaya produksi (1 porsi)
1.113
Bumbu ayam
3.000
Bumbu pelengkap
1.500
Kemasan & sumpit
500
Total Harga
Rp. 6.113,-
Harga Jual Satuan
Rp. 9.000,-
Keuntungan (32%)
Rp. 2.887,-

Biaya Over Head adalah semua biaya produksi selain biaya bahan dan biaya tenaga kerja langsung.



C.        Keuntungan (Balik Modal)

BEP (Break Even Point) adalah suatu nilai hasil pendapatan yang didapatkan dari biaya produksi dan biaya operasional. BEP dapat diartikan tidak hanya untung, tetapi juga tidak rugi (impas).

Faktor-faktor yang mempengaruhi BEP adalah:

1.      Harga jual produk

2.      Biaya tetap (contoh: gaji karyawan)

3.      Biaya variabel (contoh: biaya bahan baku dan kemasan).

BEP (Balik Modal)     = Modal awal       : Keuntungan

                                    = Rp. 18.000.000 : Rp. 2.887 /porsi

                                    = Rp. 6.234,8

                                    = Rp. 6.235 porsi (dibulatkan keatas)

Maka untuk pencapaian BEP (balik modal) harus terjual 6.235 porsi mie ayam.



Dengan modal awal sebesar Rp. 18.000.000,- titik balik modal akan dicapai apabila pengusaha dapat menjual sebanyak 6.235 porsi mie ayam dengan nilai penjualan Rp.56.115.000,-.

Harga jual                   = 6.235porsi x Rp. 9.000,-

= Rp. 56.115.000,-

Harga pokok               = 6.235 porsi x Rp. 6.113,-

= Rp. 38.114.555,-

Laba /keuntungan       = harga jual – harga pokok

                                    = Rp. 56.115.000 - Rp. 38.114.555,-

                                    = Rp. 18.000.445,-

                                    = Rp. 18.000.000,- (dibulatkan)



Waktu balik modal (payback period) tergantung dari berapa banyak jumlah porsi mie ayam yang bisa dijual dalam 1 hari.

5.4 Tabel Waktu Balik Modal

Keterangan
50 porsi
75 porsi
100 porsi
150 porsi
Penjualan /hari
50
75
100
150
Penjualan /bulan
1.250
1.875
2.500
3.750
Total BEP
6.235
6.235
6.235
6.235
Payback period (bulan)
5
3,3
2,5
4,7

Bila jumlah porsi mie ayam yang terjual dalam satu hari sebanyak 50 porsi, maka waktu balik modal (payback period) akan didapatkan pada bulan ke-5 dari awal penjalan.



D.        Target Pasar

Target pasar untuk produk olahan makanan seperti mie ayam dapat mencakup semua kalangan, mulai dari anak umur 6 tahun hingga orang tua. Hampir semua masyarakat Indonsia menyukai makanan olahan dengan bahan baku mie. Baik itu mie instan atau mie olahan sendiri.



E.        Visi dan Misi

Visi adalah rangkaian kalimat yang menyatakan cita-cita atau impian sebuah perusahaan yang ingin dicapai dimasa depan visi seringkali bersifat abstrak, arah umum dan cenderung abstrak. Visi merupakan hal yang krusial bagi perusahaan untuk menjamin kelestarian dan kesuksesan jangka panjang. Visi merupakan suatu pernyataan komprehensif tentang segala sesuatu yang diharapkan suatu organisasi pada masa yang akan datang dan dibuat sebagi pedoman atau arah tujuan jangka panjang organisasi.

Misi adalah produk dan jasa yang akan dihasilkan oleh perusahaan, pasar yang dilayani dan teknologi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dalam pasar tersebut misi adalah perwujudan dari visi. Bila visi adalah impian, maka misi adalah wujud atau bentuk dari impian tadi. Penyataan misi harus mampu menentukan kebutuhan apa yang dipuasi oleh perusahaan, siapa yang memiliki kebutuhan tersebut, dimana mereka berada, dan pemuasan tersebut dilakukan. Misi masih merupakan sesuatu yang memiliki arti global dan cenderung generik.

1.        Visi

Visi dari wirausaha produk makanan mie ayam saya adalah menjadi wirausaha yang halal serta penyedia produk makanan mie ayam yang lezat, berkualitas dan bermutu tinggi.

2.        Misi

Misi wirausaha produk makanan mie ayam saya Mills adalah sebagai berikut:

a.    Menghasilkan produk lezat, berkualitas dan bermutu tinggi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

b.    Menjangkau seluruh golongan masyarakat, baik anak-anak, remaja maupun orang dewasa.

c.    Mengembangkan kompetensi sumber daya manusia.

d.    Memperkuat daya saing dengan menyediakan berbagai variasi menu.



VI.       PENUTUP

Demikian proposal ini dibuat dengan sebenar-benarnya dengan harapan bisa memberikan gambaran yang jelas mengenai maksud dan tujuan dalam pelaksanaan wirausaha dengan produk dagang berupa makanan mie ayam. Besar harapan agar permohonan ini dapat dipertimbangkan dan dapat diterima sesuai dengan apa yang sudah diusulkan serta kerja sama dan bantuan dari segenap pegawai demi kelancaran dalam pelaksanaan berwirausaha dan bisnis dalam bidang ini.

            Harapan dari wirausahawan dan bisnis mie ayam ini adalah dapat memberikan dan menyediakan makanan mie ayam yang halal, lezat, berkualitas, bergizi serta bermutu tinggi dan disukai oleh semua kalangan masyarakat.